//
you're reading...
Just one cent

Blaming for Other

“De, bangun” suatu suara dipagi hari.  “…….”  Hening, tak ada jawaban…

“De, bangun” kata suara itu lagi.  “mhmmmh….”  Hening lagi…

“De, bangun!” Ketiga kalinya suara itu terdengar. “Ya..ya…” Sambil membalikan badan kekanan, lalu hening lagi…

Tepat pukul 8 pagi, aku tiba-tiba tersentak bangun. Baru ingat, hari ini ada janji sama orang jam 9! Padahal pengen nyantai bangun siang karena hari ini libur tidak ngantor :D. Aku bergegas bangun dan berdoa pagi singkat, seperti biasanya (red: kebiasaan buruk yang terus dipupuk).

Berjalan ngeloyor ke kamar mandi, aku nyeletuk bercanda, pada kakakku yang lagi sibuk masak. “Lu ga bangunin gue seh”. “Yee, lu yang tidurnya kaya kebo, dibangunin dari tadi ga bangun-bangun!” Jawab kakakku sengit. 😀

Sambil mandi, tiba-tiba sesuatu mampir dipikiranku. Sikapku yang nyalahin kakak (walaupun bercanda), rasanya suatu sikap yang sering banget dilakuin orang. Blaming for other. Jadi ingat kisah Adam dan Hawa… Saat Adam ditanya Tuhan, kenapa makan buah yang dilarang Tuhan, maka Adam otomatis menjawab “Hawa yang suruh”. Ketika Tuhan ganti bertanya pada Hawa. Apa jawaban Hawa? Kurang lebih sama dengan jawaban Adam, menyalahkan pihak lain, yaitu ular yang membujuk dia makan buah itu.

Dasarnya nenek moyang kita tukang nyalahin orang, jadinya kita yaa begini ini… 😀  *pembelaan diri*

Ada rekan kerja dikantor, punya kebiasaan suka menyalahkan orang lain seperti ini. Setiap kali dia melakukan kesalahan lalu ditegur, pasti jawabannya: “Habis ..bla..bla..bla” atau “Kata si A..bla..bla..bla..”. Temanku, yang kebetulan atasannya langsung, jadi kesal mendengarnya.  Alih-alih menyadari kesalahannya lalu say sorry, dia malah sibuk mencari alasan dan berargumen. Defensive. Membela diri terus.

Ibuku lain lagi. Setiap kali dia mengalami kejadian, sedikit clash dengan orang, maka dia akan curhat ke teman atau anaknya, dengan argumentasi yang sangat subyektif! Nilai kebenarannya akan berbeda-beda, tergantung diposisi mana dia berada pada kejadian itu. Aku seringkali malah menyalahkan Ibuku, saat dia curhat sama aku untuk mendapatkan dukungan, misalnya, “Mama ga boleh gitulah, dia kan juga punya hak, emang cuma Mama doank yang butuh?!” Biasanya sih Ibuku jadi terdiam, karena menyadari bahwa perkataanku benar. Namun, teteup, spriritnya dia dalam kejadian itu adalah, dia yang benar, demi untuk mendapatkan rasa nyaman bahwa dia tidak bersalah 😀

Aku tidak suka politik. Satu hal yang sangat membuatku tidak suka selain kemunafikan politikus-poilitikus itu adalah hal ini, membenarkan diri sendiri alias menyalahkan orang lain. Para pejabat dan orang besar itu kan sering banget sibuk menyalahkan orang lain, instansi lain. Daripada berbesar hati ngaku salah, mereka lebih memilih adu jago ngomong, yang orang begopun bisa menilai kalo omongannya ga bener!

Aku ingat, sejak aku masih remaja, kalau aku dimarahin Bapakku (red: berantem), aku suka merenung setelahnya. Aku pikir-pikir. Lalu aku merasa, aku salah juga. Dibangun dengan keinginan menjadi lebih baik, aku belajar untuk punya jiwa besar, mengaku salah. Besoknya aku datangi Bapakku, lalu bilang: “Pa’, maafin Herni ya, kemarin Herni salah”. Sering sih, pengakuan itu dibarengi kata-kata “Habis bapa juga sih…” :D, namun at least aku berani mengakui bahwa aku salah.

Rekan kerjaku yang lain punya kebiasaan lain lagi. Kalau dia melakukan kesalahan lalu ditegur, maka dia akan berusaha memperbaiki kesalahannya itu, tapi tanpa pernah mengatakan “Maaf Mbak, saya salah”. Kadang terjadi, dia tidak bisa melakukan tugas yang diberikan kepadanya, sehingga diambil alih oleh supervisornya (red: dengan hati kesal). Dan keajaiban terjadi! Dia tidak berkata sepatahpun, entah say sorry, atau thank you udah dibantu/ diambil alih, atau apapun! Hening! Impact dari keajaiban itu adalah, supervisornya tambah dongkol karena dia diam saja seolah-olah tidak menyadari kesalahannya /:)

Tuhan marah waktu Adam dan Hawa memberi jawaban seperti itu, sehingga Tuhan memberikan hukuman pada Adam dan Hawa dan mengusir mereka dari Taman Eden. Aku jadi berangan-angan, seandainya jawaban Adam dan Hawa tidak seperti itu, tidak menyalahkan orang lain tetapi mengakui kesalahannya dan meminta ampun pada Tuhan, mungkin Tuhan akan mengampuni mereka dan tidak menghukum mereka. Kita bisa merasakan indahnya hidup ditempat seperti Taman Eden. Tidak perlu hidup didunia yang carut-marut ini. Tidak perlu bekerja keras membanting tulang hanya untuk sesuap nasi, karena Tuhan sudah sediakan semunya seperti halnya diTaman Eden-nya Adam dan Hawa. Aku sebagai perempuan tidak perlu merasakan susahnya mengandung dan sakitnya melahirkan, yang merupakan bentuk hukuman Tuhan kepada Hawa.

Seandainya saja, dunia yang sekarang ini juga dipenuhi oleh orang-orang yang berjiwa besar, yang mau mengakui kesalahannya dan mengakui kebenaran orang lain. Seandainya saja tidak ada sifat defensive yang negative. Seandainya saja….

Ach akupun mau belajar, berani mengakui kesalahanku dan tidak melulu menempatkan diri sebagai posisi yang benar 🙂

About susanrumbo

a simple and modest girl

Discussion

One thought on “Blaming for Other

  1. Berjiwa besar mengakui sebuah kesalahan, kadang merupakan pekerjaan yang berat. Lebih berat daripada di suruh ngejar busway yang tidak mau nunggu kita! Tapi hal ini biasanya terjadi diawal saja, yaitu di saat kita mau memulai mau mengakui. Hal ini bisa saja karena ego, gengsi, atau apalah yang berhubungan dengan strata sosial seseorang. Padahal kalo sudah kita lakuin, yang terjadi malah membuat kelonggaran di hati dan diri kita jadi enteng.
    Well, yang paling penting, thanks for this reminder, don’t put the blame on somebody’s else when you are seeking for truth..Hadapi saja dan akui saja..although it hurt or as if you are at the lower strata in the beginning, but it will create “jiwa kesatria…yaitu kesatria wajan hitam…berubah…!!! 😛

    Posted by Pengelana Internet | October 20, 2010, 8:34 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: