//
you're reading...
Catatan tidak penting

Untungnya…ada tukang tambal ban :)

Ternyata catatan tidak penting hari ini tidak berhenti sampai kegiatan donor darah siang tadi. Pulang kerja rencananya aku mau ikut Praise and Worship night di GBI PRJ Kemayoran. Berhubung keluar kantor udah jam 6.35, Revo kubawa ngebut melintasi jalan Sudirman-Thamrin. Tak kusadari kalau bongkaran jalan yang ditutup sementara dengan papan besi dijalan Thamrin tidak rata, sehingga saat dengan kecepatan tinggi aku lewat diatas papan besi tersebut, motorku sedikit oleng, tapi untung masih bisa kupertahankan kestabilannya.

Motor terus kubawa melaju, namun 100m dari situ kok rasa-rasa ada yang aneh dengan ban motorku. Jalannya jadi agak oleng. Grunjal-grunjul. “duh, kayanya kempes nih” pikirku. Kecepatan kulambatin, sampai di perempatan depan Bank Mandiri kutengok ban motorku, benar saja, Kempes! Pes! Pes!. Oh my God, piye iki… Akhirnya kubelokkan motor kekiri. Ada anak penjual rokok bersepeda, kutanya dia dimana ada tambal ban. Untungnya ternyata ada tambal ban tak jauh dari situ, dihalte pertama sebelah kiri. Jadi kudorong motorku pelan-pelan menuju tambal ban tersebut. Piuh, lumayan juga, 100meter-an euy!

“Waah, ini bannya pasti tadinya kurang angin mbak, jadi ban dalemnya keluar dikit” kata si abang tukang tambal, saat pertama melihat kondisi banku. AKu cuma “o..” tidak begitu mengerti :D. Si abang tukang tambal lalu membongkar banku dan mengeluarkan ban dalamnya. Setelah dia cek ternyata bekas tambalan sebelumnya lepas. Kekecilan dulu nambalnya, kata dia. Aku cuma berpikir, mungkin juga karena goncangan keras diatas papan besi tadi, makanya tambalannya jadi sobek. Si abang pun memulai kerjanya menambal ban.

Jalanan disekitar situ agak gelap, tampaknya lampu jalan tidak banyak sementara mobil yang lewat baru ramai bila lampu lalu lintas diperampatan jalan sebrangnya menyala hijau. Ada Ibu jualan rokok dihalte tersebut, sambil menjaga bayinya yang tidur dikereta dorong. “Kasihan banget ini bayi dibawa kejalanan begini”, pikirku. Aku mencari tempat duduk, tapi hanya ada satu bangku kayu kecil yang diatasnya duduk seorang laki-laki sambil menyisir-nyisir rambutnya. Bangku halte itu sendiri sudah digunakan oleh si ibu tukang rokok untuk menaruh dagangan. Aku tidak sadari kalau lelaki yang menyisir rambutnya itu agak kurang waras (sepertinya) sampai ketika dia berdiri dan aku berganti menduduki bangku kayu itu, kuperhatikan baju kumal yang dia kenakan. Dia beberapa saat mengamati aku waktu aku duduk dibangku itu. Aku agak takut juga, takut dia bersikap kasar. Jadi aku berdiri lagi menghampiri si abang tukang tambal. Untungnya si lelaki agak kurang waras tadi lalu pergi menjauh. “Syukurlah..”, pikirku sambil kembali duduk dibangku kayu favorit ditempat itu . Kutengok jam dipergelangan tangan kiriku. 6.50. “Yaah, ga bakal kekejar deh ikut PW” sesalku.

10menit si abang tukang tambal selesai dengan tambalannya. Motorku siap tuk kubawa pulang. Ya, kuputuskan pulang kerumah deh, daripada telat ikut PW.

Kembali Revoku melaju kearah Kebon Sirih menuju Tugu Tani, sampai di perempatan Senen. Sepanjang jalan Suprapto, Cempaka Putih aku kok berasa ban motorku agak tidak maksimal dibawa lari. Tapi kuteruskan juga laju motorku. AKhirnya karena aku mulai merasakan grunjal-grunjul lagi, aku menepi dan mengecek ban motorku. “Oh my God, kempes lagi!!”. Aku baru sampai dekat ITC Cempaka Mas, sementara rumahku masih lumayan jauh. Rasanya tidak mungkin kupaksakan motorku dengan kondisi ban seperti ini untuk lanjut ke rumah. Jadi aku masuk ke jalur lambat, dan mencari tambal ban. Untunglah ada tambal ban dekat situ. Siabang tukang tambal memeriksa ban motorku, ternyata kali ini bocornya ditempat lain, yaitu disisi ban. “Rambut-rambut ban dalamnya keluar nih mbak, jadi kegesek-gesek, jadi sobek”, katanya. Aku hanya bisa menghela nafas, dan membiarkan siabang tukang tambal bekerja menambal ban motorku. Pelajaran yang harus kuingat, rajin-rajin cek ban motor, jangan sampai kurang angin!

20 menit kemudian motorku selesai dikerjakan. Kubayar uang tambal lalu bergegas pulang.
Thanks God, I finally got home. Tidak perlu mencari tukang tambal ban untuk yang ketiga kalinya 😀

About susanrumbo

a simple and modest girl

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: