//
you're reading...
It's all about God

SALIB = K A S I H

Kemarin, Jumat 22 April adalah perayaan kematian Tuhan Yesus, atau disebut juga Jumat Agung. Kebetulan gerejaku bersama 2 gereja lain bergabung mengadakan perayaan Jumat Agung sekaligus Paskah (perayaan kebangkitan Tuhan Yesus) diluar, yaitu disalah satu taman bermain di Lippo Cikarang.

Rencana acara mulai jam 8 molor sampai jam 10. Wuiih, jalanan macet total bow! Kayanya penduduk Jakarta pada hijrah ke Bandung or somewhere else, pokoke ninggalin Jakarta dan segala kesibukannya deh untuk beberapa hari, mumpung libur panjang, Jumat-Minggu. Jadi banyak yang terlambat sampai ditempat.

Baru saja aku dan keluarga sampai, sekitar 9.30, ada laporan, salah satu jemaat, abangnya meninggal hari itu. Ibu itu, yang baru 15 menit tiba disitu, tampak bingung dan panik, karena dapat telepon bahwa abangnya meninggal dan mayatnya sekarang ada dirumah dia. Sementara dirumah dia tidak ada siapa-siapa, hanya anak bungsunya lelaki kelas 4 SD. Kami semua jadi bingung dapat berita itu. Waduuh bagaimana ini. Sementara si ibu nangis-nangis sambil sibuk menelepon keluarganya, memberi tahu. Tampak sekali dia kalut dan bingung karena tak tahu harus berbuat apa. Kami tenangkan dulu ibu itu, lantas para pendeta berdoa untuk menguatkan ibu itu.

Setelah pikir-pikir bagaimana mengurus masalah ini, akhirnya kami putuskan aku menemani ibu itu kerumahnya, diantar seorang jemaat. Sementara yang lain langsung menelepon Pondok Kelapa untuk pesan pemakaman dan peti. Rencana acara penguburan dilakukan besok.

Ibu itu adalah seorang janda dengan 2 anak. Suaminya meninggal sudah sekitar 5 tahunan. Anaknya yang besar masih kelas 3 SMP. Dia bukan orang berada. Yaaa bisa dibilang, hidupnya pas-pasan. Dia berjuang keras untuk bisa membesarkan anak-anaknya dan menyekolahkan mereka. Dia membiayai hidup keluarganya dari uang kontrakan 2 petak rumah, dekat rumahnya. Dia dan anak-anaknya sendiri, tinggal dirumah yang juga cuma sepetak. Daerah itu bisa dibilang dibilang daerah yang kumuh dan padat. Aku tak tahu pasti berapa kontrakan rumah itu, tapi kalau tidak salah pasaran kontrakan rumah petakan disitu sekitar 500-700 ribu sebulan. Jadi yaa mungkin si ibu bisa dapat 1,5 juta sebulan dari kontrakan rumah. Dia juga berdagang kecil-kecilan dipasar malam dekat rumahnya.

Sepanjang perjalanan menuju rumahnya, si ibu diaam saja. Sepertinya dia sibuk dengan pikirannya sendiri. Aku tawarin makan kue dan minum, supaya ada energy nanti dirumah untuk urusan-urusan, tapi dia tidak mau. Tidak selera makan katanya.

Kami tidak begitu mengenal keluarga besarnya, karena dia memang belum lama bergabung dengan gereja kami. Dari ceritanya dia, abangnya ini sudah punya istri dan 2 anak, tapi ditinggalkan di Cilegon sana, sudah sekitar setahunan. Ibu ini sendiri juga tidak tahu masalah keluarga mereka apa. Abangnya, katanya, selama ini tinggal di Cawang, tapi tidak tahu dimana. Pekerjaan tetap pun tidak ada, kerja serabutan aja. Abangnya ini memang sakit-sakitan, kata dia. Tapi sekitar 6 bulanan yang lalu dia telpon, katanya sudah sehatan.

Kami sedikit memahami, apa yang paling membuatnya panik dengan berita itu. Selain tentu sedih dengar abangnya meninggal, dia juga pasti panik harus bagaimana. Karena tentu butuh uang untuk tetek-bengek urusan nguburin. Dan sepertinya dia sudah merasa tidak sanggup untuk mengurus urusan2 itu sendirian, sementara dia tidak tahu akan mengandalkan siapa. Hanya dia dan abangnya itu yang tinggal di Jakarta ini, serta 2 keponakannya didaerah Tangerang dan Ciledug.

Perjalanan kembali ke Jakarta lancar, sekitar jam 11 kami tiba dirumah ibu itu. Tapi aneh kok sepi. Sampai depan rumah, kami lihatlah lelaki kurus tak berbaju, duduk dilantai dengan kepala lemah tertunduk kekursi. Si ibu segera menepuk dan menegor lelaki itu, yang tak lain adalah abangnya. Lelaki itu menyahut perlahan. Thanks God, ternyata belum meninggal! Si ibu itu lemas terduduk dikursi tak berkata apa-apa.

Akhirnya kami ajak si ibu untuk membawa abangnya ke rumah sakit. Dia diam saja tidak menjawab ajakan kami. Aku mengerti pasti dia pikirkan biaya. Aku bilang, nanti kita urus kartu miskin aja, yang penting si abang dibawa dulu ke rumah sakit. Untung jemaat yang mengantar kami tahu, ada orang yang suka mengurus kartu miskin didaerah itu. Kebetulan jemaat ini memang tinggal tak jauh dari daerah itu juga. Akhirnya dipanggillah orang itu.

Singkat cerita, kami membawa abang si ibu itu ke rumah sakit Tarakan. Urusan lancar, karena dibantu sama orang yang biasa mengurus kartu miskin itu. Tak ada uang yang keluar. Cukup lama kami menunggu di IGD rumah sakit, sampai akhirnya penanganan medis selesai dan dokter ahli paru mengatakan bisa dibawa pulang. Untuk selanjutnya disuruh datang kontrol hari Senin.

Abang itu ternyata sakit paru. Yang membuat dia lemah seperti orang mati adalah karena dia sudah 2 hari tidak makan. Tampaknya sudah seperti gelandangan. Teman tempat dia menumpang, yang mengantar dia kerumah si ibu, dengan diikat pakai sarung, naik motor. Mungkin temannya itu sudah tak tahu mau berbuat apa, karena si abang itu sudah lemah tak bergerak bahkan tak bersuara, sehingga dia kuatir terjadi apa-apa lalu mengantarkannya ke rumah si ibu. Mungkin dia pun tak punya uang untuk membawa si abang ini ke rumah sakit.

Setelah segala urusan selesai dan kami kembali kerumah, barulah si ibu itu agak sedikit tenang. Dia terlihat sudah bisa kembali tersenyum dan tertawa. Kalau sebelumnya dia seperti “tidak ada”, pikirannya entah dimana, hanya badannya yang ada disitu, sekarang seolah-olah dia sudah ada kembali disitu, bersama-sama dengan kami. Dia bolak-balik bilang terimakasih karena aku sudah nemenin dia. “Kamu jadi ga ikut ibadah deh, Her….”, katanya. Aku peluk dia sambil menjawab: “Ibadah kan ga harus selalu nyanyi-nyanyi, denger kotbah Kak…, ini juga ibadah, melakukan kasih buat sesama. Yesus disalib kan karena Dia mengasihi kita, masa kita ga bisa saling mengasihi….”. Dia tampak terharu mendengar jawabanku.

Tak lama, sekitar jam 5 sore, rombongan orang-orang gereja datang dari Cikarang. Akhirnya kami ngobrol-ngobrol sambil tertawa-tawa karena salah berita itu. Mereka langsung telepon lagi ke Pondok Kelapa waktu tau informasinya salah, yang akhirnya diomelin sama orang yang ngurusin :D. Aah.. indahnya kasih persaudaraan dalam Yesus. Trimakasih Tuhan, salibMu mengajarkan kami kasih ini 🙂

About susanrumbo

a simple and modest girl

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: