//
you're reading...
Catatan tidak penting

H-1

Sabtu, 7 January 2012, satu hari menjelang ulang tahunku. Aku sudah berencana membongkar pohon Natal dirumah, untuk disimpan lagi dengan baik supaya tahun depan bisa digunakan lagi.

Lagi asyik-aysik ngelepasin ranting-ranting cemara, ada orang dipintu pagar. “Ya mbak?”, tanyaku.

“Maaf bu… Mau kasih informasi gratis tentang kesehatan mata” seorang gadis bekerudung melongokkan kepalanya diatas pintu pagar.

“Kesehatan mata??”

“Iyaa…. Teman saya ada datang kesini tidak ya bu, kasih informasi tentang kesehatan mata, dari rumah sakit?”

“ga ada…” jawab saya.

“Oooh kalau gitu saya mau kasih informasinya buat ibu… “ Katanya dengan manis

Saya bukakan pintu pagar, lalu mempersilahkan dia duduk dikursi teras.

Dengan sangat manis dia menjelaskan tentang kacamata teraphy yang berguna untuk kesehatan mata, bahkan bisa menyembuhkan katarak. Saya dengarkan dengan setengah hati. Lalu menjelang akhir dia bilang hari itu mereka punya program kacamata gratis buat orang tua diatas 60 tahun. Karena bapa saya sudah 79 tahun, jadi dia bilang bapa saya beruntung bisa mendapatkan kacamata itu secara gratis. Terus minta saya memperlihatkan KTP bapa (setelah sebelumnya minta bertemu dengan bapa, tapi saya tolak). Saya masuk kedalam rumah mengambilkan KTP bapa (dengan merapatkan pintu, berhati-hati kalau-kalau gadis itu maling berkedok jualan).

Akhir cerita, seperti yang sudah kita duga bersama… Sambil mengeluarkan kacamat terapy dari tasnya, dia bilang saya tidak perlu bayar Sembilan ratus Sembilan puluh Sembilan ribu (harga kacamata itu), tapi cuma diminta bayar uang garansi sebesar Dua ratus Sembilan puluh Sembilan ribu…. *saya tersenyum penuh pengertian*.

Syukurnya saya tidak gampang terbujuk dengan rayuan-rayuan gombal sales seperti itu. Jadi dengan manis saya bilang saya tidak mau bayar garansi, maunya gratis aja :D. Dan akhirnya si gadis pun pergilah :D.

Saya kembali lanjutkan mencopoti ranting cemara dari batangnya sambil berpikir. Gadis itu menawarkan barang dengan cara yang sangat manis. Ramah. Dengan pendekatan personal. Walaupun saya setengah hati mendengarkan karena sudah menduga dia cuma jualan barang, namun saya jadi respect dengan cara dia bekerja. Saya jadi pengen support dia, sehingga waktu dia pergi dengan muka yang kelihatan sedikit kecewa karena dagangannya tidak laku, saya lepas dia kepintu pagar dengan kata-kata: “Semoga sukses ya mbaakkk….” ^_^

Satu kebaikan sudah saya lakukan. Memberkati orang dengan doa untuk sukses 🙂

Setengah jam kemudian, datang tetangga saya melongok-longok dipintu pagar.

“Hey, ada apa? Sini masuk” saya buka pintu pagar. Ga biasa-biasanya tetangga saya namu. Pagi-pagi lagi.

“gapapa…. Mmmmm… sendiri ya Her?” Tanyanya

“Iya. Ada sih bokap, tapi lagi tidur. Kenapa?”

Dia tidak menjawab, tapi mengikuti langkah saya masuk kedalam rumah.

“Her, elo kerja di LSM ya….? LSM tuh gimana sih kerjanya….? “ Dia bertanya dengan agak ragu-ragu.

Saya jelaskan panjang lebar, apa kerja LSM. Trus akhirnya saya tanya “emang kenapa?”

Dengan ragu-ragu dia mulai cerita tujuan dia. Ternyata dia punya masalah keuangan. Terlilit hutang kartu kredit. Ga tanggung-tanggung, 5 kartu kredit! Dengan mata memerah mau nangis, dia bercerita bagaimana dia harus membiayai sekolah 2 keponakannya yang sudah ditinggal mamanya (kakaknya dia, sudah meninggal), bantu keluarga/orang tua untuk makan sehari-hari, sementara gajinya pas-pasan. Dia sudah mulai tidak bisa bayar tagihan kartu kreditnya tepat waktu. Bulan demi bulan berlalu dengan cara gali lobang-tutup lobang membayar tagihan kartu kreditnya. Dia hanya sanggup bayar jumlah minimum. Itu pun telat. Bahkan, kadang untuk bayar tagihan kartu kredit yang satu, dia tarik tunai dari kartu kredit yang lain. Jadi, sudah setahun dia seperti itu, dan tagihan kartu kreditnya ga turun-turun tapi malah naik terus! Saya ga heran kalau caranya pake kartu seperti itu…. Bayangkan, sekali tarik tunai 300,000 saja, dia harus membayar biaya admin saat itu juga 60,000, which is 20% of the cash! It’s crazy! #@&%$#!

Akhir cerita dia tanya sama saya. “Ada ga ya Her, LSM yang bisa bantu masalah kaya gue gini….? Katanya bisa ke LBH, ya…?

Saya jelaskan, “kalau LBH itu membantu masalah hukum. Misalnya si pihak kartu kredit pake debt colletor yang melakukan tindakan melanggar hukum. Kamu bisa minta tolong ke LBH. Tapi kalau masalah kamu ini masalah keuangan”

Akhirnya saya janji sama dia untuk pikirkan jalan keluarnya. Saya minta dia kasih lihat tagihannya dan hitung berapa total semuanya. Saya tanya berapa pendapatannya, dan berapa pengeluarannya dalam sebulan. Saya hitung, memang dia sudah besar pasak daripada tiang. Gaji dia sebulan saja sudah tidak cukup untuk membiayai kebutuhan tetap tiap bulannya. Apalagi bayar tagihan kartu kreeedit…. 😦

Akhirnya dia pulang dengan sedikit berharap. Walaupun saya bilang tidak janji bisa bantu banyak, tapi saya akan coba pikirkan jalan keluarnya.

PR saya sekarang. Memikirkan bagaimana mendapatkan pinjaman lunak untuk dia, supaya dia bisa lunasi semua tagihan kartu kredit yang mencekik itu, dan bayar cicilan pinjaman lunak sesuai dengan kemampuannya. (Tuhan, tolong saya untuk bantu dia….).

But at least, kebaikan kedua sudah saya lakukan. Mendengarkan curahan hatinya, dan memberi diri berpikir untuk menyelesaikan masalahnya 🙂

Kejadian berkesan yang ketiga di H-1 ini adalah, satu titik awal jawaban Tuhan atas doa saya selama ini. Hadiah ulang tahun dari Tuhan buat saya. Sebuah pertemuan Ilahi. Very special ^<>^. Hahahahahahaha…. Saya akan ceritakan nanti kalau titik awal itu sudah bertemu dengan titik ujungnya yaaa….. 🙂

About susanrumbo

a simple and modest girl

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: