//
you're reading...
It's all about God

Tidak jadi batal terbang ke Yangon :)

Hari ini jadwalku adalah terbang dari Suvarnabhumi airport ke Yangon, Myanmar. Penerbangan jam 01.05 siang by Thai airways. Kemarin nge-bus dari Bangkok ke Pattaya, bermalam semalam di Pattaya. Jadi pagi ini dari Pattaya mau langsung ke Suvarnabhumi, Bangkok.

Ternyata kalo ke Pattaya weekend itu, muacet! Kaya orang-orang Jakarta yang menuhin Bandung, ato Bogor di weekend, begitupun orang-orang Bangkok banyak yang ngabisin liburan dengan ke Pattaya. Perkiraan 2.5 jam dari bus station Ekamai ke Pattaya North station eeh taunya butuh 3.5 jam baru sampe. Alhasil, rada kuatir untuk besok langsung ke bandara. Amannya jam berapa ya…

Ada travel yang langsung ke bandara, dari terminal bus Pattaya. Ngecek jadwal kesitu, ada yang jam 6 pagi, dan selanjutnya jam 9. Sayangnya yang jam 6 pagi udah full. Tinggal yang jam 9. Pikir-pikir ngeri juga mepet gitu, takutnya ntar macet sampe 3,5 jam-an kaya kemaren, bisa ketinggalan pesawat… Soalnya aku udah harus sampe bandara jam 11. Ngecek bus, yang paling pagi jam 4.30. Bisa sih, tapi pagi banget ya…. Bus selanjutnya setiap setengah jam.

Hitung punya hitung, kalo naik bus, ntar turun di kota kudu naik taxi lagi ke bandara, kayanya ga praktis banget, biayanya juga jadi mahal juga, bus 200 baht, taxi ke bandara bisa 500 baht. ntar takut macet juga di kota menuju bandara…. Akhirnya memutuskan pakai jasa sewa mobil hotel (Diana resort) ke bandara. Cukup mahal sih 1,800 baht all in, tapi amanlah.

Waktu aku bilang pesawatku jam 1, orang hotel bilang jalan jam 9 aja. Tapi aku takut macet kaya kemarin, jadi kubilang jalan jam 8 deh.

Dan ternyata jalanan lancar dan lebih dekat (daripada ke kota/station Ekamai). Jam 9.30 aku udah dibandara. Aman . Aku tanya petugas yang diri depan counter2 check-in, apa aku udah bisa check-in sekarang, dibilang bisa. Siip…maka antrilah aku di antrian check-in.

TIba giliranku, aku dilayani staff perempuan. Dia ngecek-ngecek dokumenku, lalu mencari visa Myanmar dipasporku. Ku bilang, “sekarang bisa pake visa on arrival kalo dari Indonesia”. Mbak itu jawab: “Tapi tetap harus ada surat”. Sejenak aku bingung, surat apa…?. Mbak itu liat-liat lagi ke kompinya. “kamu harus punya surat approval dari kedutaan Myanmar”.

“Ngga perlu mbak, saya tinggal minta visa on arrival nanti di bandara Yangon”, jawabku.

“yes, but you still need a letter of approval”. Lalu dia ngebacain regulasi dari kedutaan Myanmar di kompinya.

“Lha trus gimana mba, saya sekarang udah disini….”. Aku sambil ngecek ke teman kantor yang baru Agustus lalu ke Myanmar, apa dia bawa surat juga dari embassy Myanmar. Jangan-jangan aku yang salah, ga nyiapin/ngurus surat itu.

“I am sorry, but you have to bring the letter”. Lalu mbak itu ngasih saran untuk aku apply online. Dia kasih alamat webnya.

Sementara itu temanku udah sms confirm, bahwa dia ga bawa surat apa-apa. Tapi dia memang di tanyain ama Singapore airlines (waktu itu dia naik SQ), dan diminta tandatangan pernyataan kalau dia ga akan minta ganti rugi ke SQ kalau nanti ditolak masuk Myanmar.

“My friend just went there last August, and she didn’t bring any letter, just asking for visa on arrival when she arrived” Aku mencoba menjelaskan sama si mba.

“Ok, let me ask my supervisor”. Si mbak pergi menemui atasannya.

5 menit kemudian mbak itu datang. “I am sorry, we cannot check you in. You have to have the letter of approval. See this, I print the regulation for you”. Lalu dia nunjukin kertas print-an. Disitu ada ditulis: Visa required, except for a max. stay of 14 days for holder passport of National of Indonesia.

“See this, max 14 days no need to have visa. I will only stay for 3 days.” aku mencoba berargumen. Lalu dia nunjukin tulisan dibawahnya: Visa issuance: holder of letter of approval can obtain a visa on arrival. “You still have to bring the letter of approval”. Aku jadi bingung juga, ga begitu ngerti maksud dari regulasi yang tertulis itu.

“Ok, why not you just let me go there, if they don’t let me into the country, then I will just back to my country”. “Because my friend just went there and she didn’t bring any letter from Indonesia!” Aku mencoba bersikeras.

“No, you have to bring the letter from here (Bangkok)!”. “You can apply the visa online”

“Berapa lama prosesnya?” tanyaku.

“normally around 2-3 days”

“Ga mungkin mbak. 4 hari lagi saya udah terbang pulang Yangon-Jakarta!”

“I am sorry, but you cannot go”

Aku menghela nafas. Akhirnya kuambil lagi koper yang udah kutaruh untuk ditimbang. Aku pergi dari counter itu
setelah mengucapkan terimakasih.

“Tuhan, sekarang gimana….?” Aku berjalan sambal mikir-mikir. Kalau aku batal terbang hari ini, trus urus visa dalam 3 hari, berarti aku harus ganti 3 tiket, Bangkok-Yangon, Yangon-Bangkok, Bangkok-Jakarta. Aku harus cari hotel di Bangkok. Hotel di Yangon harus ubah tanggal juga. Trus aku ngapain 3 hari di Bangkok…. Atau, kalau emang ga bisa terbang ke Yangon, ya udah apa aku langsung balik aja ke Jakarta, jadi tinggal ubah tiket Bangkok-Jakarta ku, dan membiarkan tiket pp Bangkok-Yangon ku hangus. Tapi kerjaan di Yangon jadi ga ke-kerjain….

Sambil mikir-mikir baiknya gimana, aku sambil whatsapp rekan kerja di Jakarta, dan sambil coba buka web kedutaan Myanmar yang dikasih si mbak tadi. Buka webnya dari handphone, dan coba masukin pengajuan visa. Pas aku masukin tanggal masuk dan pulangku, keluar notifikasi: For max stay of 14 days is exempted from visa requirement. “Lha ini ga perlu visa….”

Minta bantuan temenku untuk konfirmasi ke kedutaan Myamar juga ga berhasil, karena hari ini libur (Minggu), jadi mereka ga buka.

Pikir punya pikir, akhirnya kuputuskan untuk coba lagi check-in. Jam sudah jam 11, pas waktunya untuk check-in (2 jam sebelum keberangkatan). Aku masuk lagi ke antrian check-in, tapi aku pilih di jalur yang berbeda, di jalur J (yang tadi di H).

Tiba giliranku, kali ini laki-laki yang tugas. DIa lihat-lihat pasporku sepertinya cari visa, lalu kubilang “ga pake visa, karena cuma 3 hari”. Lalu dia tanya: “Berapa hari di Myanmar?”. Ku jawab “3 hari. Itu ada tiket baliknya”. Dia lihat-lihat lagi sebentar, setelah itu dia pamit “Please wait a second”, lalu dia pergi menemui seseorang yang ku rasa atasannya.

Sambil memperhatikan mereka berbicara dikejauhan, aku berdoa dalam hati: “Dengan kuasa Roh Tuhan yang ada dalamku, aku katakan: Aku terbang! Tidak ada masalah! Roh Kudus jamah orang itu supaya mengijinkan aku terbang”. Aku komat-kamit berdoa dan berbahasa roh.

Mereka agak lama berdiskusi. Aku pasang imanku bahwa aku pasti terbang. Lalu aku berhenti berdoa dan tidak mikir2 lagi mau ngapain kalo ga terbang. Karna aku yakin aku pasti terbang.

Sekitar 7 menit kemudian, si mas kembali. Sambil senyum dia kembali ke bangkunya tanpa berkata apa-apa padaku. Lalu dia mem-print boarding pas, dan memasang tag di koperku. Melihat itu senyum langsung menghiasi wajahku. Haleluya, Trimakasih Tuhan Yesus, kataku dalam hati.
Selanjutnya pasporku dikembalikan bersama dengan boarding pass. Dan setelah itu semua berjalan lancar hingga aku bisa tiba di Yangon dengan selamat. Ooh Roh Kudus, betapa manisnya pertolonganMu. Indah dan tepat pada waktunya.

Ada hal yang bukan kebetulan, yang aku lihat pagi hari ini. Bukan kebetulan yang pertama adalah, aku berangkat lebih pagi! Aku pada dasarnya bukan orang “pagi”. Aku lebih sering (suka) mefet-mefet. Ngepas waktu. Kalo bukan karena macet di hari sebelumnya (perjalanan Bangkok-Pattaya), aku pasti ga akan tiba 9.30 pagi ini di bandara. Paling banter aku tiba jam 11 pas atau bahkan lewat2 dikit. Tapi ternyata Roh Kudus sudah tahu bahwa aku akan butuh waktu lebih banyak karena masalah ini, sehingga dia “buat” aku berangkat lebih pagi. Seandainya saja aku jam 11 baru sampai, dan setelah lebih setengah jam bernegosiasi di counter chek-in (dan setengah jam antri) tapi ditolak, pasti aku udah panik dan memutuskan balik ke kota karena udah ga ada waktu untuk mikir2 dan nyoba check in lagi.

Bukan kebetulan yang kedua adalah, bukan tidak mungkin pada saat check-in ku yang kedua, sang supervisor adalah orang yang sama, atau paling tidak kalau beda orang, keduanya sudah terupdate tentang kasusku ini dari sejak check-in pertama. Jadi besar kemungkinan mereka akan punya pendapat yang sama bahwa aku harus bawa “letter of approval” untuk bisa terbang ke Yangon.

Ga ada yang mustahil buat Tuhan untuk menolong dan menyediakan pertolongan, untuk anak-anakNya yang percaya dan mengandalkan Dia. Sepanjang menunggu di boarding room, bibirku tak henti-henti tersenyum, bahagia dan terharu pada kesetiaanNya. Aku merasakan aku tidak sendiri, walaupun aku traveling sendirian. Dia selalu ada bersamaku, dalam setiap langkahku. Tidak ada hal yang bisa membuat aku kuatir. Tuhan membuat perjalananku berhasil dan beruntung. YA, aku beruntung, karena aku tidak jadi batal terbang ke Yangon, sehingga aku berhasil menyelesaikan misiku dalam trip ini. Trimakasih Tuhan Yesus :).

About susanrumbo

a simple and modest girl

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: