//
you're reading...
Just one cent

Peranan ibu dalam rumah tangga, is too much?

Kemarin setengah-harian keliling-keliling naik motor lihat-lihat kalo ada rumah yang BU mau djual. Mumpung masih belum masuk kerja 😀 . Aku sisirin dari mulai Kayu Putih, ke Rawasari sampe tau-tau udah di Cempaka Putih.

Ada satu rumah yang dipasangin plang “Dijual/Disewa”. Kebetulan si empunya rumah buka warung nasi didepan, jadi aku mampir dan nanya-nanya tentang rumah itu.

Habis liat-liat rumah dan dokumennya, aku ngobrol-ngobrol sama ibu itu.

“Sebenarnya saya sayang mau jual rumah ini, Nci”, si ibu memulai obrolan. (Dia menyebutku Nci, mungkin karena mataku yang agak sipit kaya orang China :D)

“Trus kenapa dijual, Bu?”

“Iya habis ga punya uang nci… kebutuhan sekolah anak-anak banyak…”. “Pada mau masuk kuliah”

“ooo….” Sahutku.

“Pengennya sih punya duit buat benerin ini rumah. Soalnya sayang kalo dijual. Tapi yaa gitu, ga punya uang, Nci”

“Saya cape, Nci… Semuanya saya. Pagi-pagi saya udah bangun, trus masak buat jualan. Ni warung udah buka dari jam 530, soalnya buat yang pada nyarap” lanjutnya. “Sore jam 6 baru tutup”, lanjutnya lagi. “Udah ga sempet ngeberesin rumah, makanya rumah kaya gini”

Memang rumahnya itu terlihat berantakan sekali dan (maaf) jorok. Kamar mandinyapun bau. Kata dia baru pada makan jengkol jadi bau (hiii…). Ruangan dibawah dibiarkan kosong tak terurus dan gelap, sementara mereka tinggal dilantai atas (asumsi saya, soalnya perlengkapan rumah semuanya diatas). Mereka gunakan sepetak didepan untuk warung nasi si ibu. Si ibu punya anak lelaki tiga, yang sulung baru aja masuk kuliah dimana biayanya 1,200,00 per bulan, menurut si ibu. Sementara yang bungsu aku taksir masih kelas tiga SD (kebetulan saat itu anak bungsunya datang habis bermain, minta minum sama ibunya).

Tampaknya anak lelakinya tak bisa diharapkan untuk membantu membersihkan rumah, karena aku lihat tumpukan pakaian (dari jemuran) berserakan dikursi diatas. Padahal saat itu ada anak lelaki no. 2 nya (mungkin sudah SMA), sedang nonton TV dengan tak berbaju.

“Bapak kerja apa, Bu?” Lanjutku bertanya.

“Suami saya pengangguran, Nci. Makanya, pusiiinngg… mikirin kebutuhan. Semuanya cuma ngandelin ini aja”, keluhnya sambil menunjuk kedai warung nasinya. “Mana sekarang sepiii… soalnya udah banyak yang jualan juga. Kalo dulu sih lumayan, belum banyak yang jualan”.

Suaminya tak terlihat saat itu. Aku terdiam, tak berani lanjut bertanya, kemana suaminya saat itu. Aku bisa membayangkan beban yang harus dia tanggung. Mikirin biaya hidup dan sekolah anak hanya dari hasil jualan nasi yang tidak seberapa. Mengurusi anak, khususnya mungkin yang paling kecil, yang masih SD. Mengurusi usahanya, termasuk memasak dan melayani pembeli. Aku tidak bertanya, bagaimana dia berbelanja kebutuhan untuk warung nasinya, apakah dia atau suaminya yang belanja. AKu bertanya-tanya sendiri, kenapa suaminya tidak ikut membantu pekerjaan rumah atau paling tidak membantu menjaga warung nasinya. Tidak adil rasanya kalau disaat beban biaya rumah tangga ditaruh dipundak istri, lantas suami tetap tak merasa punya kewajiban untuk sekedar melakukan pekerjaan rumah seperti, mengepel, mencuci baju, menyetrika. Kenapa saat porsi tanggung jawab suami diambil alih (dibantu) oleh istri, suami tidak juga mengambil alih (membantu) tanggung jawab istri mengurus rumah? Atau ini mungkin yang namanya emansipasi kebablasan….

About susanrumbo

a simple and modest girl

Discussion

One thought on “Peranan ibu dalam rumah tangga, is too much?

  1. Menarik…kamu bisa menyelam dalam sekali dan melakukan analisa…Setuju dalam beberapa aspek emasispasi sekarang ini memang telah melewati batas normal (kebablasan). tapi perlu juga dilihat secara imbang, ada saatnya pekerjaan untuk lelaki pun sekarang di ambil alih oleh kaum hawa. Kita lihat sekarang POM bensin dengan alasan hawa lebih luwes banyak dipekerjakan disana. Tapi memang aku juga akan jutek, kalo melihat suami itu sendiri tidak bergerak ataupun tergerak. Minimal ambil alih, peran yang trganti

    Posted by Just drop by | January 8, 2011, 2:21 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: